Jumat, 20 Mei 2011

IDEALISME VS UANG


IDEALISME VS UANG

Tulisan in berawal dari sebuah pertanyaan manakah yang akan menang, ketika Idealisme Vs Uang?? Sebuah pertanyaan yang mungkin dapat dijawab oleh manusia manapun, karena tidak memerlukan pikiran untuk menjawabnya, semua orang pasti akan serentak berteriak “Uanglah yang akan menang,” Bukanlah sama proses berpikir mereka, tetapi realitalah yang menjawabnya, mengapa demikian? Idealisme yang merupakan dasar dari sebuah gerakan harus tumbang dengan yang namanya Uang, karena selama ini generasi yang diharapkan sebagai agen perubahan, generasi penerus bangsa, generasi yang sombong dengan gelar MAHAnya harus diam tanpa kata, mungkinkah generasi kita terinspirasi oleh lagunya D’Masive “DIAM TANPA KATA” jika benar demikian, maka generasi kita bukanlah GENERASI HARAPAN BANGSA, tetapi generasi yang patut ditertawakan.

Sekarang ini gerakan yang dibuat oleh mahasiswa hanya terjebak pada gerakan pragmatis, contohnya berapa banyak gerakan yang merupakan bentuk kekecewaan rakyat terhadap kebijakan pemerintah, gerakan yang dibuat karena pengeluhan masyarakat terhadap kebijakan yang tidak pro Rakyat, tetapi kemudian gerakan harus dihentikan atas dasar kepentingan dan hasil yang cukup memuaskan. Arator-arator terhebat kita yang sebelumnya memperjuangkan hak-hak rakyat dengan lantang meneriakkan kebijakan pemerintah adalah salah, sekarang mereka harus pulang dengan wajah yang berseri-seri dan senyum penuh misteri, tangan yang sebelumnya digunakan untuk memegang megavon, sekarang pulang memegang amplop. Apakah isi amplop tersebut? Realitasnya isi amplop tersebut adalah Nasib Rakyat.

Betapa arator kita tidak menyadari bahwa uang adalah kesenangan sesaat bagi mereka dan merupakan penderitaan berkepanjangan bagi rakyat, mungkinkah mahasiswa sekarang ini yang terlalu cerdas? Kata Ipin-Upin “Betul,betul,betul” sayangnya, kecerdasan mereka, mereka padukan dengan kelicikan sehingga menghasilkan keuntungan yang menyengsarakan.

Dari realitas inilah, maka wajarlah pemberian bingkisan kepada salah satu kampus di gorontalo yang isinya pakaian dalam wanita, hal ini mencerminkan bahwa, betapa idealisme kita sebagai mahasiswa tidak dianggap lagi oleh pemerintah sebagai senjata ampuh yang dapat menghancurkan kebatilan, tetapi dianggap sebagai suatu barang yang dapat dibeli dengan uang.

Seharusnya kita sebagai mahasiswa, mampu menganalisa apa yang terjadi di bangsa ini, khususnya di gorontalo, mulai dari lembaga pemerintahan kita tidak punya pemimpin, yang ada hanya penguasa. Mengapa?! Pemimpin adalah orang yang berusaha memimpin dan menaungi rakyat, yang kemudian tidak menetapkan kebijakan yang merugikan rakyat. Kita hanya punya penguasa yang minta dilindungi rakyat, yang berusaha memperkaya diri, mengeluarkan kebijakan tanpa mempertimbangkan kesejahteraan rakyat.

Lebih parah lagi, negara yang kita cintai ini sitem pemerintahannya AMPI NKRI (Anak Menantu Ponakan Ipar Negara Kesatuan Republik Indonesia). Provesionalisme tidak lagi menjadi satu ukuran jabatan, yang penting masih ada kaitan keluarga, maka itulah yang berhak menduduki jabatan.

Inilah sekelumit masalah yang perlu kita ketahui bersama, betapa besarnya harapan negara ini kepada kita mahasiswa sebagai agen pelopor, bukan pengekor, sebagai penganalisa bukan pembuat masalah.

Sahabatku……
Kalian adalah generasi tengah yang diciptakan untuk memerangi kebatilan, bukan untuk menambah kesengsaraan. Di tangan kalianlah tergenggam nasib-nasib rakyat, janganlah kalian tidur ketika rakyat membutuhkanmu karena kamu adalah generasi harapan bangsa bukan harapan bantal. Jadilah mahasiswa yang cinta perdamaian bukan cinta uang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar